Saya benci jika harus kembali berhadapan dengan masa lalu.
Saya benci jika harus kembali bergesekan dengan kepentingan di masa lalu.
Dan, saya benci jika harus kembali berhadapan orang-orang yang pernah menyakiti saya di masa lalu.
Tapi, hidup adalah pelangi. dia bisa berubah kapan pun ia mau, dan itulah yang menjadikannya dinamis dan penuh warna. bayangkan, jika warnanya selalu kelam, seolah dunia sangat kejam pada kita. namun, bayangkan jika warnanya selalu terang, dunia seolah-olah adalah surga.
Sesak itu semakin menyeruak di dalam dada, membuka kembali luka yang telah saya tutup dan kunci rapat-rapat. Tapi, saya dengan terpaksa harus kembali membukanya, mencari kunci yang entah telah saya buang dimana, untuk menyelesaikannya.
Tapi saya percaya, inilah masa-masa Allah ingin membuat saya dewasa. Masa-masa dimana rasanya, saya pikir, hanya tangan Allah yang mampu menyelesaikannya.
Bersama kesulitan, ada kemudahan. Bersama masalah, ada solusi.
Jika air mata bisa mengering, mungkin ia kering sejak lama. Tapi, air mata itulah yang melembutkan hati ini, membuatnya menjadi lebih peka, membuatnya lebih memaknai kehidupan :)
Rabbi, jika saya boleh berkata, ‘Tak sanggup’ sudah sejak dulu saya akan katakan itu, tapi jiwa ini bergejolak resah, mengatakan bahwa saya sanggup menyelesaikan semuanya, tapi luka itu, luka itu kembali menyelusup di tiap-tiap urat-urat jiwa saya, membuatnya berserak, dan tak mampu untuk kembali menyatu.
Saya tak pernah ingin kembali, apalagi masa lalu itu.